Dubbing itu penting

256

 

“Masha and The Bear ini jd tidak menarik tanpa bahasa Rusianya.. knp harus di dubbing sih :|” itu adalah cuitan salah satu teman twit saya sore ini. Memang tiap sore salah satu tv nasional menayangkan kartun soal polah tingkah gadis kecil yg ndlidik itu. Belakangan muncul episode-episode baru yang sudah didubbing, dialih bahasa ke dalam bahasa indonesia. Pasti banyak yang merasa “waaahh, kok suaranya gini sih” lalu kayanya kok kecewa ya. Imut-imut ala bahasa aslinya jadi ilang. Menurut saya juga begitu. Eit, tapi itu dulu!

Sekarang kalau ditanya “Apakah tayangan televisi harus di-dubbing?” maka saya adalah orang pertama yg setuju. Setuju banget pokoknya! Lha kenapa? Soalnya saya punya anak hehehehe. Tepatnya lagi, saya menonton televisi bersama Aila. Seorang balita (hampir) 4tahun yg lagi kritis-kritisnya melihat mendengar merekap apapun disekitarnya. Yg pastinya kemudian apa yg dia lihat dan dengar itu pasti ditiru dong.

Eniwei, aila ini punya jadwal nonton tv dan jadwal main. Ada beberapa teman yg seumuran di komplek, dan kalau sore terang mereka biasa main bareng. Main apapun lah, pasaran, sepedaan dan playon pastinya. Ada salah satu teman aila yang gaya bicaranya persis plek plek dengan salah satu kartun negeri jiran yg tayang di tv. Lucu? Pasti. Gemes lah dengar anak 4-5tahun berbicara. Tapi kok kemudian ini agak mengganggu saya ya. Anak ini gaya bahasanya mengikuti kartun tersebut, persis plek plek. Dari pelafalan kata dan nada kata, sama. Beberapa kartun dr negeri jiran itu memang menggunakan bahasa asli, alias tidak di-dubbing ke dalam bahasa indonesia. Agak mengganggu saya karena menurut saya ini bisa merusak tata bahasa indonesia dong.

Inilah yg sekarang menurut saya, tayangan televisi, khususnya kartun yg berasal dr luar agar dialihbahasakan dulu. Anak anak balita khususnya, tata bahasanya belum sempurna, menyerap mentah-mentah informasi yg didapat apapun itu. Alih bahasa sendiri, selain anak mengenal bahasa indonesia yg baik dan benar, anak juga lebih paham jalan cerita dr kartun itu sendiri. Mengenal berbagai macam ekspresi dalam kata sehari-hari yg digunakan. Idealnya memang orang tua kemudian meluruskan informasi yg didapat anak. Tp saya sebagai orang tua pun mengakui, tidak semua bisa dihandle dengan mudah. Kadang pengaruh stimulasi dr lingkungan lebih kuat mempengaruhi perilaku anak.

Versi saya, semua kartun yg ditayangkan di televisi sih seharusnya dialih bahasa dulu ya. Semua tanpa kecuali. Toh, kalau dari pertama sudah dialih bahasa ga akan terasa beda juga. Ini cuma masalah kebiasaan saja. Jadi, saya harus nyuratin kemana ya supaya televisi televisi itu men dubbing semua tayangannya?

sumber gambar : mashabear.com wikipedia.com

2 COMMENTS

  1. Saya lahir th 85, di th 90an sya mnonton smua acara tV anak tanpa didubbing, produk acara TV anak yg sya tonton smuanya dg bahasa asli nya, jadi utk mengerti sya harus baca subtitle nya.. jadi tanpa sadar sya belajar baca dan memahami dg cepat, dan sya mengenal bahasa inggris. Di usia itu sya belajar bahasa inggris lebih banyak dari acara TV (seperti : Sesame Street), dan tata bahasa saya gak brantakan tuh, karena ortu sya sering mengajak saya ngobrol ttg banyaj hal.. jadi utk kasus anak teman penulis yg bahasanya berantakan smpe niru plek plek tokoh kartun, hmm coba cek sbrapa banyak ortunya ngajak ngobrol anak2nya.
    ? Dubbing itu memperburuk kualitas acara TV sob, apalagi klo ada nyanyian dlm acara tsb, udh liriknya maksa, nyanyinya jg fals.. hadeuhh..malah jadi kacau. Hehe. Tapi ini kan cm pendapat sya, yg benci banget sama dubbing. Thanks anyway brother.

  2. Saya lahir th 85, di th 90an sya mnonton smua acara tV anak tanpa didubbing, produk acara TV anak yg sya tonton smuanya dg bahasa asli nya, jadi utk mengerti sya harus baca subtitle nya.. jadi tanpa sadar sya belajar baca dan memahami dg cepat, dan sya mengenal bahasa inggris. Di usia itu sya belajar bahasa inggris lebih banyak dari acara TV (seperti : Sesame Street), dan tata bahasa saya gak brantakan tuh, karena ortu sya sering mengajak saya ngobrol ttg banyaj hal.. jadi utk kasus anak teman penulis yg bahasanya berantakan smpe niru plek plek tokoh kartun, hmm coba cek sbrapa banyak ortunya ngajak ngobrol anak2nya.
    ? Dubbing itu memperburuk kualitas acara TV sob, apalagi klo ada nyanyian dlm acara tsb, udh liriknya maksa, nyanyinya jg fals.. hadeuhh..malah jadi kacau. Hehe. Tapi ini kan cm pendapat sya, yg benci banget sama dubbing. Thanks anyway brother.

LEAVE A REPLY