Bagaimana Bicara Pada Anak Mengenai Teror Dan Kekerasan

22
Stop Terrorism via pixabay.com

GULANGGULING.COM | Parenting – Kamis, 14 Januari 2016 publik tersentak dengan adanya aksi terorisme yangterjadi di kawasan Sarinah, Jakarta. Semua pemberitaan media langsung tertuju pada aksi ini. Televisi nasional secara berkelajutan terus meng-update berita terbaru. Begitu pula di media sosial, semua mata tertuju pada aksi teror ini.

Semua orang, tidak terkecuali anak-anak kita yang mungkin juga ikut menyaksikan berita mengenai aksi teror ini. Mungkin bagi anak-anak yang sudah beranjak remaja sudah mengerti dan sedikit paham mengenai apa itu teror dan kekerasan, namun bagaimana ya bericara mengenai teror dan kekerasan pada anak-anak kita yang usianya masih dini?

Bicara mengenai teror dan kekerasan pada anak merupakan hal yang penting agar anak aware terhadap situasi dan lingkungannya. Terutama pada keluarga yang kebetulan tinggal di daerah dimana aksi teror tersebut terjadi. Berikut informasi dari Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan yang bisa kami share untuk orang tua sekalian.

Tips untuk guru dan orang tua.
Tips untuk guru dan orang tua.

Lebih lanjut lagi disampaikan oleh Najeela Shihab, mengenai bagaimana berbicara pada anak tentang teror kekerasan, situasi darurat, dan memahami informasi yaitu:

  • Bicara pada anak mengenai teror kekerasan, situasi darurat, dan memahami informasi membutuhkan waktu dan situasi yang tepat. Kondisi pada saat ada kejadian khusus di lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti aksi peledakan di Jakarta, pada 14 Januari 2016 lalu, merupakan salah satu kesempatan belajar yang tepat.
  • Selalu mulai dengan mengecek perasaan anak tentang kejadian teror atau situasi darurat serta mencari tahu seberapa banyak informasi awal yang dimiliki anak. Semisal dengan bertanya, “dengar berita tadi siang, nggak?”
  • Ajari anak untuk mengenali, melabeli, dan mengekspresikan emosinya. Ingat bahwa tiap anak memiliki tingkat kecemasan yang berbeda dan cara mengekspresikan yang unik.
  • Pastikan orang tua dan guru bersikap tenang dan tidak menularkan kekhawatiran yang berlebihan pada anak. Apalagi menyalahkan dan memperkuat stereotype yang salah mengenai kelompok tertentu.
  • Jadilah contoh yang baik bagi anak tentang literasi media dan informasi. Selalu bersikap kritis, tidak menyebarkan berita yang belum dicek kebenarannya, dan dapat menimbulkan keresahan yang tidak perlu.
  • Pastikan anak tahu bagaimana bereaksi dalam situasi darurat; memiliki informasi yang diperlukan, misal: hafal nomor handphone orang tua, serta tingkah laku yang tepat dalam situasi darurat; misal: mengikuti instruksi, menghindari kerumunan, dll.
  • Ajarkan anak untuk sensitif dan responsif pada lingkungan sekitarnya. Mengamati kondisi dan tingkah laku orang di sekeliling, misal: ketika ada yang butuh bantuan, atau memperhatikan lambang/tanda darurat.
  • Biasakan membahas kejadian sehari-hari maupun berita populer di media massa yang sesuai dengan usia anak sebagai bagian dari rutinitas keluarga. Hal ini dapat membuka pintu komunikasi dan mengajarkan pada anak pentingnya nilai sosial dalam masyarakat.

*Tips ini diambil dari keluargakita.com

LEAVE A REPLY