Siapakah Para Pahlawan di Uang Rupiah Baru?

949
uang-kertas-baru
Gambar PAhlawan di Uang Rupiah via detik.com

GULANGGULING.COM | Informasi – Pemerintah dan Bank Indonesia mengumumkan rencana perubahan desain pahlawan pada uang rupiah yang ditergetkan pada penghujung tahun 2016.

Setelah mengumumkan desain baru dan nama para pahlawan yang akan tercetak di uang baru, tanyalah pada dirimu sendiri: ada berapa pahlawan yang kamu kenali? Sebagian dari nama pahlawan tersebut masih terasa asing ya? Jadi, mari kita cari tahu latar belakang singkat mengenai para pahlawan tersebut.

Ir. H. Djuanda Kartawidjaja

Ir. Raden Haji Djoeanda Kartawidjaja adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir. Beliau juga pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Kerja I. Beliau lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 14 Januari 1911, dan meninggal di Jakarta, 7 November 1963 pada umur 52 tahun

Sumbangannya yang terbesar dalam masa jabatannya adalah Deklarasi Djuanda tahun 1957 yang menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah NKRI atau dikenal dengan sebutan sebagai negara kepulauan dalam konvensi hukum laut United Nations Convention on Law of the Sea (UNCLOS).

Namanya diabadikan sebagai nama lapangan terbang di Surabaya, Jawa Timur yaitu Bandara Djuanda atas jasanya dalam memperjuangkan pembangunan lapangan terbang tersebut sehingga dapat terlaksana. Selain itu juga diabadikan untuk nama hutan raya di Bandung yaitu Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, dalam taman ini terdapat Museum dan Monumen Ir. H. Djuanda.

Dr. G. S. S. J. Ratulangi

Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi adalah adalah seorang aktivis kemerdekaan Indonesia dari Sulawesi Utara, Indonesia. Sam Ratulangi juga merupakan Gubernur Sulawesi yang pertama. Namanya diabadikan dalam nama bandar udara di Manado yaitu Bandara Sam Ratulangi dan Universitas Negeri di Sulawesi Utara yaitu Universitas Sam Ratulangi.

Sam Ratulangi dikenal dengan filsafatnya, yaitu: “Si tou timou tumou tou” yang artinya: manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Frans Kaisiepo

Frans Kaisiepo adalah pahlawan nasional Indonesia dari Papua. Beliau lahir di Wardo, Biak, Papua pada 10 Oktober 1912 dan meninggal di Jayapura, Papua, 10 April 1979.

Beliau juga pernah menjabar sebagai Gubernur Papua masa jabatan tahun 1964-1973. Frans Kaisiepo terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti “beruap”.

Dr. K. H. Idham Chalid

Dr. KH. Idham Chalid adalah Wakil Perdana Menteri Indonesia pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II dan Kabinet Djuanda. Beliau adalah salah satu politisi Indonesia yang berpengaruh pada masanya.

Lahir di Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, Idham Chalid juga aktif dalam kegiatan keagamaan dan pernah menjabat Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1956-1984.

Moehammad Hoesni Thamrin

Mhthamrin-cropped.jpg

Muhammad Husni Thamrin adalah seorang politisi era Hindia Belanda. Beliau lahir pada 16 Februari 1894. Ayahnya adalah seorang Belanda dan ibunya adalah Betawi. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) di Hindia Belanda, mewakili kelompok Inlanders (pribumi).

Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepak bola Hindia Belanda (Indonesia), karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2000 Gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepak bola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia (sekarang Jakarta).

Tjut Mutiah

Cut Nyak Meutia.jpg

Tjut Mutiah atau Tjoet Nyak Meutia adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Beliau aktif dalam pergerakan melawan Belanda tahun 1905-1910.

Tjoet Meutia gugur pada pertempuran saat pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng.

Mr. I Gusti Ketut Pudja

I Gusti Ketut Pudja adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Beliau ikut serta dalam perumusan negara Indonesia melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mewakili Sunda Kecil (saat ini Bali dan Nusa Tenggara).

I Gusti Ketut Pudja juga hadir dalam perumusan naskah teks proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Ia kemudian diangkat Soekarno sebagai Gubernur Sunda Kecil.

Letnan Jendral TNI (Purn) Tahi Bonar Simatupang

Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama T.B. Simatupang adalah seorang tokoh militer dan Gereja di Indonesia.

Simatupang pernah ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia (KASAP) setelah Panglima Besar Jenderal Soedirman wafat pada tahun 1950. Ia menjadi KASAP hingga tahun 1953. Saat ini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Dr. Tjipto Mangunkusumo

Cipto mangunkusumo.jpg

Tjipto Mangunkusumo adalah seorang tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bersama dengan Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara ia dikenal sebagai “Tiga Serangkai” yang banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda.

Beliau adalah tokoh dalam Indische Partij, suatu organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan oleh Belanda. Pada tahun 1913 ia dan kedua rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya, dan baru kembali 1917.

Prof. Dr. Ir. Herman Johannes

Herman Johannes adalah seorang cendekiawan, politikus, ilmuwan Indonesia, guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau lahir di Rote, NTT, 28 Mei 1912.

Herman Johannes banyak mengabdikan dirinya kepada kepentingan negara dan bangsanya, terutama rakyat kecil. Selain mengabdi pada bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, Herman Johannes juga ikut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menyerbu kota Yogyakarta di pagi buta dan bisa menduduki ibukota Republik pada masa itu selama enam jam.

Sumber: Djoeanda Kartawidjaja, Sam Ratulangi, Frans Kaisiepo, Idham Chalid, Husni Thamrin, Cut Meutia, Gusti Ketut Pudja, TB Simatupang, Cipto Mangunkusumo, Herman Johannes

LEAVE A REPLY