Fans Manchester United harus bersabar

87

Akhirnya saya memutuskan untuk menulis tentang klub ini lagi. Ini adalah kali kedua saya menulis tentang kondisi Manchester United pasca ditinggal Fergie. Tulisan pertama saya yaitu saat klub ini ditangani David Moyes yang akhirnya harus rela dirumahkan sebelum musim benar-benar habis.

Louis Van Gaal, pelatih yang dinilai sukses menangani tim besar seperti Barcelona, Bayer Munchen dan timnas Belanda ini ditunjuk sebagai pengganti David Moyes yang sempat diganti sementara oleh Ryan Giggs. Sebuah pergantian memang selalu membuat perubahan, itu pasti! Kalaupun tidak berubah itu sangat kecil kemungkinan. Van Gaal datang membawa beberapa pemain yang dinilainya akan membuat perubahan, sebut saja Di Maria, Harrera, Daley Blind, Marcos Rojo dan terakhir pemain fenomenal Ramadel Falcao turut dipinjam. Hukum jumlah pemain berlaku, karna klub mendatangkan pemain maka klub juga harus melepas pemain. Adalah pemain asli didikan akademi wellbeck yang harus rela dilego ke Arsenal, Chicarito yang harus rela dipinjamkan ke Madrid agar memperoleh banyak kesempatan main, walau sampai saat ini permainannya jauh dari kata “oke” , Luis Nani yang juga harus merelakan dirinya dipinjamkan ke Sporting Lisbon demi memuluskan kepindahan Marcos Rojo dan ada beberapa nama lain yang terpaksa dijual oleh klub.

Van Gaal memulai musim ini juga tidak bagus-bagus amat. Sekalipun diawal terlihat wah dengan deretan pemain top dilapangan, tapi kini nama tersebut seakan-akan hanya menjadi beban klub. Penampilan mereka belum cukup solid, masih cukup banyak blunder, bahkan menurut saya barisan tengah belum cukup kreatif membangun serangan. Herrera memang sangat mobile, dia terlihat kesana kemari, tapi menurut saya masih kurang berani masuk kedepan. Blind? Pemain ini sebenarnya pemain belakang, tapi Van Gaal sepertinya lebih suka dia sebagai pemain tengah bertahan, dia bagus tapi kadang suka teledor, umpannya kadang mengarah ke musuh. Satu lagi, alih alih ingin memenangkan duel lapangan tengah maka Van Gaal lebih suka memasang Fellaini dibanding Juan Mata, kalau ini menurut saya hanya karna posturnya yang tinggi harapannya akan memenangkan duel bola atas.

Salah satu pemain tumpuan MU dalam menyerang adalah Di Maria, dia didapuk sebagai motor serang, dia punya skill dribble yang bagus. Sayangnya, menurut saya postur dia kurang cocok bermain di liga Inggris yang notabene keras dan banyak body charger. Bisa dilihat berapa kali Di Maria selalu gagal dribble, bola lepas begitu saja setelah dia mendapat tekanan dari lawan, sesaat kemudian dia jatuh, bahkan saat bertemu Arsenal (FA) dia dianggap diving yang menyebabkan kartu kuning kedua untuknya. Welcome to BPL bro.

Pemain belakang bagaimana? Jika tak ada De Gea maka sudah banyak bola bersarang ke gawang MU, silakan tengok sendiri statistik fantastis De Gea disetiap laga, tak sedikit jumlah saved yang berhasil dibuatnya. Pemain belakang MU memang masih kurang sip, Rojo memang bagus, tapi kadang dia suka bikin tackle yang tak perlu. Shawn? Tak sebagus saat di Soton. Smalling angin anginan. Untuk pemain belakang, Paddy mungkin bisa jadi pilihan, walau masih muda dia berprospek, memang sih Paddy itu terlihat agak grogi waktu main, tapi saya rasa dia prospek jadi bek tengah. Secara overall sebenarnya mereka bagus tapi hanya kurang konsisten dan tak PD.

Saat ini satu-satunya pemain yang bagi saya terlihat sebagai sisa kejayaan United adalah Wayne Rooney. Sebagai seorang kapten dia terlihat ikhlas ditempatkan dimana saja, bahkan sekarang dia lebih sering bermain ditengah, hal itu membuat dia jarang menyarangkan bola kejala lawan. Semenjak RvP cidera, Rooney punya kesempatan bermain didepan dan itu berhasil efektif, dia berhasil memperlihatkan ketajamannya dengan membuat gol yang mengantarkan kemenangan. Sayangnya ini adalah olahraga tim dan Manchester United tidak bisa hanya bergantung pada seorang pemain saja seperti Wayne Rooney.

 

Bagaimana formasi? Entah kenapa Van Gaal sangat suka formasi 3-5-2. Ya mungkin dia secara teknis lebih paham, karna dia pelatih. Tapi sejauh kacamata orang awam seperti saya ini, MU agak kerepotan dibagian belakang saat bermain dengan 3 bek. Walau sebenarnya jika saat di serang MU bertransfomasi dengan 4 pemain belakang, tapi kadang hal itu telat dilakukan, alhasil MU kocar kacir ketika ada counter attack cepat. Bahkan penonton distadion sempat menyuarakan untuk ganti formasi menjadi 4-4-2 agar MU lebih offensive dalam menyerang. Formasi 3-5-2 menurut sebagian orang hanya seperti menumpuk pemain top dilapangan tengah, memang MU selalu menang dalam penguasaan bola, tapi mereka tak cukup kuat dibelakang dan tak cukup kreatif membuat serangan, mereka sibuk utak atik bola ditengah dan bingung membuka celah. Hmm mungkin ini kebiasaan Van Gaal dan sepakbola Belanda yang terkenal dengan Total Football, menguasai bola selama dia bisa. Tapi untuk saat ini United tak hanya butuh itu. United butuh gol dan semakin cepat tim bisa membuat gol maka semakin baik. Terlihat dibeberapa pertandingan United tampak lambat panas dan lebih cenderung kena serangan terlebih dahulu. Van Gaal juga sering sekali mengganti bentuk formasi dan mencoba coba pemain, hal ini mengisaratkan jika beliau masih belum menemukan formasi yang cocok dan solid. Dengan seringnya pergantian formasi membuat hasil pertandingan MU susah ditebak, kalaupun menang kadang hanya karena kebetulan atau keberuntungan.

Apa Klub ini sudah berubah? Iya begitu adanya. Sekitar tahun 98an saya mulai kenal klub ini, waktu itu sepakbola belum semaju ini. dan kejayaan klub ini dimulai sejak era 99 hingga sekarang. Saya mengenal klub ini sebagai sebuah klub yang sering mempromosikan pemain akademi, klub ini menciptakan pemain. Para pemain klub ini merupakan pemain berjiwa Manchester United. Tetapi saat ini yang saya lihat dilapangan hanya sekumpulan pemain bayaran yang dibayar untuk memainkan laga. Mungkin lama-lama klub ini jadi seperti Real Madrid yang bermodal tumbas pemain, semoga tidak. Saya memahami klub ini tak bisa langsung ideal seperti dulu. Sekarang sepakbola sudah berubah, semua butuh instan, pemilik klub ingin mendapatkan iklan yang besar, pihak pengiklan juga butuh klub yang memiliki reputasi kemenangan bagus. Beruntung klub ini memiliki pondasi yang cukup kuat, sehingga masih banyak brand besar yang masih singgah diklub ini, sepertihalnya Chevrolet.

Sungguh dimengerti jika sekarang ini banyak fans yang merasa kecewa, terlebih bagi fans yang hanya mengenal mereka disaat masa jayanya. Memang jika dilihat dari sejarahnya MU itu sudah sangat lama berada dipuncak, selama Fergie melatih disana, selama bertahun-tahun itu pula fan terbiasa dengan kemenangan. Sekarang keadaan berubah, fan harus sabar karna untuk memenangkan sebuah pertandingan saja MU masih perlu berjuang keras, hampir semua pertandingan yang dilakoni tidak pernah terprediksi menang lebih dari 75%. Hal itu karna permainan klub masih belum konsisten.

Untuk musim ini fan harus lebih sabar dibanding musim lalu (moyes), kenapa? Mari kita bahas: Pada musim lalu kita masih sempat melihat MU bermain di Liga Champion dan Eropa walaupun tersingkir. Lalu di Liga Inggris MU bahkan tak mampu masuk zona Eropa dan sangat jauh dari zona Champion. Itu pukulan telak karna musim sebelumnya dibawah Fergie MU berhasil menjadi jawara (tak perlu bahas masa fergie). Musim ini MU tak ikut liga benua eropa apapun, tolong digaris bawahi itu. MU hanya ikut liga lokal termasuk Piala Liga dan FA Cup. Dengan begitu MU hanya fokus ke beberapa liga saja. Tapi sekali lagi fan harus sabar, penampilan MU masih tak jauh beda dengan musim moyes. Di Liga Inggris MU masih harus berjuang keras untuk masuk zona nyaman Champion. Kekecewaan pertama adalah kala MU tersingkir dari Piala Liga, kekalahan tak tanggung-tanggung 0-4 ini diterima dari klub divisi 3 MK Dons. Entah karna tak terlalu serius dengan kompetisi ini atau gimana ya, MU memainkan sejumlah pemain lapis dan hasilnya tersingkir. Padahal MU sudah tak ikut liga Benua Eropa lho, kenapa memainkan pemain lapis? Kekecewaan selanjutnya baru baru ini kala MU harus disingkirkan Arsenal 1-2 dari Piala FA. Kekalahan di Old Trafford ini cukup terasa menyakitkan. Bagaimana tidak, Gol kekalah ini dibuat karena kesalahan Valencia saat ia hendak melakukan backpass, dan lebih tidak enak lagi adalah sang pembuat gol tersebut adalah Danny Wellbeck yang merupakan mantan pemain MU alias anak didik akademi MU sendiri. Dengan kekalahan itu maka hilang sudah kesempatan MU untuk mencari pengobat luka karna kegagalan musim sebelumnya. Kalau dipikir secara logika musim ini bisa dikatakan lebih parah dari musim sebelumnya. Musim ini MU sudah tak ikut liga di benua Eropa apapun dan sudah punya pemain-pemain baru, tapi tetap saja tidak bisa mendapatkan piala liga ataupun piala FA. Betul? Tolong salahkan saya jika logika ini tidak benar.

Masih ada 10 laga sisa yang masih bisa dimanfaatkan tim untuk menutup posisi di Liga Inggris dengan baik. Saat ini MU masih harus berjuang keras untuk lolos Liga Champion, posisi mereka di klasmen masih sangat rawan karna tim besar macam Arsenal, Spurs, Liverpool, Soton sudah siap menguntit. Jika dilihat dari jadwal yang tersisa, Manchester United akan menghadapi musuh-musuh yang tidak mudah, tim yang akan ditemui adalah tim yang bisa saja sangat merepotkan United. Apapun itu yang jelas Manchester United perlu meningkatkan performa, setidaknya bermain konsisten dan solid saja sudah lebih dari cukup. Jika MU masih bermain tak konsisten begini, niscaya hanya hasil mengecewakan yang akan didapat dipenghujung musim nanti. Dan saat ini bisa dipastikan sejarah 27 tahun lampau akan terulang, kala MU tidak mendapatkan gelar apapun selama 2 musim berturut-turut.

Sekali lagi fan harus lebih sabar. Selama ini sudah sering menang, sering membuat tim lain kalah dan itu sudah menimbulkan banyak haters. Maka, sekarang ini saatnya fans melapangkan dada saat melihat klub ini akan lebih sering kalah dan dipermalukan. Semoga saja petinggi disana segera menemukan solusi untuk membentuk kembali tim yang solid dan mengembalikan Setan Merah ke jiwa para pemainnya. Entah berapa musim lagi fans harus lebih sabar jika klub ini masih menderita dan hanya jadi tim medioker. Tapi tenang sob, kelak klub ini kembali kebentuk jaya maka mungkin saja anda akan menikmati kemenangan-kemenangan seperti masa lampau.

Sebelum menutup, mari kita nikmati video kemenangan bersejarah kala Manchester United di final Liga Champion dan Semi Final Piala FA 1999. Sambil berharap semoga akhir musim ini MU berhasil menutup musim dengan baik.

 

Terimakasih dan Salam Olahraga.

 

*tulisan ini hanya opini dan saya tidak terasosiasi dengan situs berita apapun*

3 COMMENTS

  1. Koh, kalau memainkan pemain lapis itu bisa legit gak koh rasanya? :v

    anyway, sabar koh, namanya juga masa transisi..mungkin taun depan udah pada bisa nyetel masing masing..

    ane juga masih ketar ketir itu Chievo degradasi apa enggak kok koh.. halah :))

LEAVE A REPLY