Ada kalanya ban bocor biar tidak nge-Gas terus

18

Yogyakarta Sore itu, perempatan kentungan, mengarah ke utara, ban sepeda montor saya mengalami kebocoran. Beruntungnya waktu itu belum sempat berhenti untuk mengecek ban, saya sudah melihat tempat tambal ban. Saya mampir disebuah kios kecil tepat dipinggir jalan, sedikit keutara dari perempatan itu. Di tempat tambal ban itu sudah ada satu motor yang bernasib sama dengan saya. “Ah saya harus antri” dalam hati berkata. Beruntungnya dikios tambal ban yang kecil itu dijaga 2 orang bapak-bapak yang menurut saya usianya tak lagi muda, salah satu memakai topi sedang menggarap motor yang datang lebih dahulu dari saya, dan satunya lagi bapak yang umurnya terlihat lebih tua akan memulai menggarap motor saya. “Asik saya tak perlu nunggu antrian”. Ban motor saya selesai dicek, bapak itu sudah menemukan lobang bocornya, tapi sialnya saya tetap harus menunggu lebih lama karna ternyata alat pemanas untuk nambal cuma satu. Haha.

Oke fine, saya mulai menikmati masa menunggu, saya duduk disebuah pondasi beton tepat disisi kios, mulai mengutak ngatik device sambil sesekali melihat jalanan yang setiap sore jam jam segitu pasti ramai padat. Melihat mereka ng-gas montor atau mombil mereka. Saya yakin 60% dari mereka yang lewat ini adalah para perkerja/pelajar yang sedang pulang kerumah masing-masing. 40% mungkin saja mereka yang sedang mau dolan atau sekedar jalan jalan sama pacarnya. Oh ya, sesekali juga saya alihkan pandangan ke baliho yang banyak menghiasi sudut prapatan ini, Saya mulai merasa Kota ini menuju ke perubahan yang tak baik. Kota makin ramai, ruas jalan semakin padat, baliho penuh sesak, mol mol mulai berdatangan, ahh saya tak pernah berharap kota ini menuju jakarta kedua. Jangan dan jangan sampai, Semoga para pejabat kota tak membuat kota ini menuju kearah itu. Jogja seharusnya selalu sederhana saja, tak perlu keramaian disana sini. Hmm tak terasa kini giliran ban montor saya mulai ditambal, mungkin tinggal 10 menit lagi selesai.

Masih sambil mengamati jalan yang penuh lalu lalang montor mombil, sesekali lewat montor-montor dengan suara knalpotnya yang “asu” didengar, saya masih heran kenapa suara montor mereka dibuat kek gitu, mungkin biar tambah banter kali yak atau mungkin mereka terlalu selo. Ah sudahlah rasah dipikir jero jero.

Tak terasa ban montor selesai ditambal, yang artinya saya kudu bayar jasa bapak ini. “Pinten Pak?” , “Pitungewu, Mas”  jawab si bapak. Kemudian saya bayar dengan uang pas, satu lembar dua ribu dan satu lembar lima ribu. “Matur Nuwun, Pak” , “Nggih, sami sami Mas” ,begitu penutup dialog yang acap kali terdengar di kota ini, Ucapan terimakasih. Kemudian saya kembali narik Gas pulang menuju rumah, menemui keluarga tercinta.

Saya bersyukur kali ini ban montor bocor, kenapa? Karna setidaknya bisa istirahat sambil melihat lihat, saya tidak mesti tarik gas terus untuk segera sampai tujuan. Setidaknya ini bisa jadi pelajaran buat saya bahwa hidup tak selalu berlaju kencang, kadang perlu istirahat sejenak, introspeksi agar jadi orang yang tau diri. Melihat lingkungan sekitar, membuka pikiran lain biar lebih mengerti keadaan. Mengatur ritme pikiran agar tak selalu mikir. Yang jelas menurut saya “nganggo leren kui penting dab” .

Saya, yang beberapa waktu lalu kebocoran ban.

7 COMMENTS

  1. sambil istirahat siang e-blusukan mampir blog nya koh coky ketemu lagi nambal ban, kok malah kepikiran judule apik nggo iki koh “nganggo leren kui penting dab”

LEAVE A REPLY